BEAUTY SKIN CARE
BEAUTY SKIN CARE
Showing posts with label singapore. Show all posts
Showing posts with label singapore. Show all posts

Wednesday, January 6, 2010

Liburan Natal di Singapore (Part 5)

Day 5 : Last Day at Singapore

Hari terakhir di Singapore, kami akan bertemu dengan Nicko teman baik Benny. Kami janjian akan bertemu jam 12 untuk makan siang bersama. Nicko tinggal dan bekerja di Singapore maka seperti warga Singapore lainnya, Nicko udah masuk kerja dari hari Senin tgl 28 Desember dan hanya libur pas tanggal merah saja. Nicko lah yang mengantar kami jalan2 ketika kami pertama kali datang ke Singapore, kisahnya bisa dibaca di sini. Masih ada sisa waktu 2 jam sebelum bertemu Nicko jadi kita jalan2 dulu di Orchard, kali ini benar2 baru ada waktu untuk shopping walau hanya 2 jam saja.

Pagi setelah sarapan ala Singapore di Killiney, kami jalan2 ke Ion Orchard mall baru di sana yang katanya ada Sephora. Maka aku ke Sephora hanya untuk memenuhi rasa ingin tahuku seperti apa Sephora itu *kampungan.com*. Ternyata Sephora isinya kosmetik dari Amerika yang telah sukses memnbuatku drooling saking banyaknya kosmetik memenuhi toko tsb. Setelah keliling, aku pun keluar dari Sephora dengan tangan hampa. Karena merasa ngga akan cukup waktu kalo mau shopping fashion, kan butuh waktu lebih lama untuk memilih dan mencoba jadi akan membuang2 waktu maka kuputuskan ke Watson lagi di Ngee Ann City. Dari sana aku beli 2 box masker Watson Bird Nest dan Green Tea *masker mania*, maybelline celansing oil dan beberapa oleh2 untuk orang tuaku. Sebenarnya ingin beli lebih banyak lagi tapi malah bingung mau beli apa soalnya ngga bener2 butuh.

Jl. Balestier

Bangunan tempat restorannya berada

Tampak depan Founder Bak Kut Teh Restaurant

Tahu2 udah jam 11.45, waktunya kita berangkat ke Bugis untuk menemui Nicko. Tempat kerjanya di Bugis soalnya jadi kita naik MRT menuju ke sana. Tiba di Bugis, Nicko udah menunggu di stasiun MRT lalu kita berjalan bersama ke terminal bis. Nicko mengajak kita makan siang di restoran Founder Bak Kut Teh yang sangat terkenal dengan masakan Bak Kut di daerah Balestier. Katanya ngga ada cabang lain dan restoran itu hanya ada satu2nya, maka ngga heran di sana ramai ketika kami tiba di sana. Ada antrian pula di depan restorannya. Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya kita menempati meja di depan yang terbuka dan bisa melihat jalan dengan kendaraan lalu lalang. Sekilas kulihat bagian dalam, suasana agak gelap dengan dinding penuh foto2 pemilik restoran dengan para selebritis terkenal yang pernah makan di sana.

Suasana di dalam Founder Bak Kut Teh Restaurant,
dindingnya penuh foto para selebritis terkenal

Hidangan menu makan siang

Setelah memesan dan menunggu sekitar 15 menit, pesanan kami pun disajikan. Sambil bercakap2, kita menyantap hidangannya. Sebelum makan cakwenya dicelupkan ke dalam kuahnya, lezat. Dagingnya enak sekali dan ngga ada lemak, lebih enak kalo ditotol ke kecap asin yg ada potongan cabenya. Hanya dalam setengah jam, kita udah selesai makan. Karena masih ada antrian menunggu meja kosong maka kita langsung minta bon, membayar lalu meninggalkan restorannya. Kita kembali ke bis untuk menjuju ke Bugis. Di sana kami berpisah dengan Nicko, kami berjalan2 ke Bugis Junction sementara Nicko kembali ke kantornya. Ngga lama jalan2 di Bugis Junction, kami kembali ke apartemen naik MRT untuk berkemas dan bersiap ke bandara.

Foto terakhir sebelum berpisah

Sampe di Bandara, kaget aku karena Benny ditelpon Joanna bahwa dia dan Richard sudah ada di Bandara karena mau mengantar kami pulang. Kami sungguh terharu dan ngga menyangka kalo mereka akan ke bandara untuk mengantar kami pulang. Kemudian Joanna memberikan bingkisan kado dan langsung kubuka, isinya pigura dengan fotoku bersama Benny ketika makan di Rendezvous Restaurant. Foto kenang2an yang indah. Kami berjanji kalo Richard dan Joanna main ke Jakarta, gantian kami akan menjamu mereka sebaik2nya sebagai tuan rumah yang baik. Setelah berpisah dengan Richard dan Joanna, kami bergegas menuju ke ruang tunggu. Kami naik pesawat jam 5.45 sore dan liburan di Singapore pun berakhir.

Sunday, January 3, 2010

Liburan Natal di Singapore (Part 4)

Day 4 : Sentosa Island

Akhirnya hari ini mau kita ke Sentosa Island, cuaca cukup baik. Selama liburan di Singapore ini, hampir tiap hari hujan tapi ngga pernah benar2 deras. Seringkali baru hujan setelah lewat siang dan hujannya juga ngga lebih dari sejam. Ketika pertama kali ke Singapore, kita ngga sempat ke Sentosa Island karena waktu sangat singkat. Setelah sarapan kesukaanku ala Singapore di Killiney yang terdiri dari segelas kopi susu, 2 butir telur setengah matang dan roti selai srikaya, kita langsung ke stasiun MRT menuju ke Harbour Front dan dari sana kita bisa langsung ke Vivo City. Karena hari itu Richard dan Joann sudah harus buka toko maka ngga menemani kita. Orang Singapore liburnya hanya pas tanggal merah saja, ngga kayak orang Indonesia yg dapet jatah libur panjang bener :p

Menu sarapan di Killiney, hanya SGD 3,5/set

Di Vivo City, kita antri untuk memesan tiket ke Sentosa Island. Terdapat antrian yang panjang menuju ke loket penjualan tiket. Kita bisa saja ngga ikut antri dan langsung membeli tiket kereta ke Sentosa Island dan membeli tiket langsung di loket yang ada di Sentosa Island. Saat itu ada paket promo yang menawarkan paket jalan2 ke Sentosa dengan harga lebih murah daripada kalo beli tiket langsung dari loket di Sentosa Island. Ditawarkan paket "Choice of Fun" atau "Choice of Thriller", kita memilih paket "Choice of Fun". Dan dari paket "Choice of Fun" ada beberapa pilihan attraction, kita memilih: The Merlion, Tiger Sky Tower, Fort Siloso dan Sentosa 4D Magix. Totalnya harga SGD 36.90/adult.

Antrian ke loket demi dapet harga paket yang lebih murah

Papan petunjuk perhentian sky train

Pemandangan di luar yang dilihat dari dalam sky train

Sky train melanjutkan perjalanannya setelah kami turun

Setelah turun dari sky train, langsung bisa kulihat patung Merlion raksasa menjulang tinggi maka Merlion yang jadi tempat kunjungan pertama kami. Patung Merlion ternyata ada rongga di dalam dan bisa dimasuki orang sampe ke atas. Karena kita udah punya tiket terusan jadi kita bisa langsung masuk dan kita masing2 dikasih sebuah koin. Di dalam gelap dan ada pajangan gambar2 ttg kisah mahluk aneh, fosil2 dan patung naga. Juga ada film yang mengisahkan sejarah ditemukannya Singapore dan Merlion. Ternyata Singapore ditemukan oleh Pangeran Nila Utama, Pangeran dari Palembang! Setelah melihat film, kita diminta memasukkan koin ke dalam mulut patung singa emas dan kemudian akan keluar kupon berisi bahwa kita memenangkan gift tapi ngga disebut gift apa. Lalu kita naik ke atas dengan lift ke mulut singa dan berfoto di sana dengan juru foto yang disediakan di sana, kemudian kita naik tangga naik ke atas kepala singa. Saat itu hujan dan angin kencang maka kita ngga bisa lama2 di atas.Kita pun turun dan menukarkan kupon tadi dengan gift yang ternyata 2 buah kipas kenang2an dari Merlion dan diberi 2 buah foto yang diambil juru foto tadi dengan biaya tambahan *ngga gratis*.

Patung Merlion menjulang tinggi

Poster2 bergambar aneka monster asing

Pemandangan dari atas Merlion

Pemandangan dari atas Merlion sudut yang lain

Ketika di dalam Merlion, kami bertemu teman baru yaitu pasangan anak muda dari Malaysia yang kemudian jadi teman perjalanan selama di Sentosa karena kebetulan paket pilihan yang kami ambil sama persis! Dari Merlion, kita ke Tiger Sky Tower yang berupa tiang tinggi dengan piringan berisi kursi2 yang bisa diduduki orang. Kita menaiki piringan itu yang kemudian membawa kita naik makin tinggi sehingga kita bisa melihat segala arah karena piringan itu berputar 360 derajat. Kita bisa melihat laut dengan kapal pesiar Star Virgo, juga bisa melihat puncak kepala patung Merlion dan juga bisa melihat area Universal Studios Singapore yang masih dalam pembangunan. Sungguh ngga sabar saat Universal Studios Singapore jadi, menurut rencana akan jadi Januari tahun ini. Yang penasaran seperti apa Universal Studios Singapore bisa melihat video Youtube di sini. Kalo Universal Studios Singapore, udah jadi yang paling ingin kulakukan adalah naik roller coasternya :p

Tiger Sky Tower

Pemandangan dari Tiger Sky Tower bisa melihat kapal pesiar dari kejauhan

Pemandangan dari Tiger Sky Tower juga bisa melihat patung Merlion

Setelah turun dari Tiger Sky Tower, kami berempat sepakat makan di Subway. Sungguh ajaib karena kita dengan pasangan Malaysia teman baru kami punya pilihan paket sama persis dan kemudian selera kita juga sama karena sama2 ingin makan di Subway. Di Jakarta kayaknya udah ngga ada restoran Subway maka aku kangen makan sandwichnya dan akhirnya bisa makan sepuasnya. Habis makan kita ke Sentosa Nature Discovery tempat kita mempelajari kehidupan burung. Dan kemudian kita menuju ke Sentosa 4D Magix, ya ampun langsung kulihat antrian yang sangat panjang! Hampir semuanya orang dewasa yang antri. Kita hanya bisa bersabar dan ikut antri, untung kita udah makan. Kita antri sampe setengah jam dan kemudian disuruh masuk ke dalam ruangan, ternyata masih harus menunggu lagi sekitar 15 menit lagi sebelum benar2 masuk ke ruangan 4D Magix. Pertunjukannya hanya 20 menit, menurutku ngga ada yg luar biasa. Kursinya keras membuat punggung sakit dan efek 3Dnya ngga membuat kaget. Yang membuat kaget justru saat ada semprotan air atau hembusan angin ke leher ataupun ada kain mengipas2 di kaki.

Iklan Sentosa 4D Magix

Saat kami baru mulai antri

Saat kami sudah hampir masuk ruangan, antriannya bertambah panjang

Nggak jauh dari 4D Magix, kita langsung antri untuk naik bis khusus ke pantai Siloso. Kita hendak ke Underwater World tapi antrinya bukan main panjang, maka kita urungkan niat masuk ke sana. Jadi kita hanya melihat2 di sekitar, ada kolam kura2 yang rata2 ukurannya raksasa. Kemudian kita sepakat ke Fort Siloso, maka kita pun ke sana. Di sana ada berbagai peninggalan sisa perang mulai dari meriam, bunker, gudang penyimpana amunisi dll. Kita menunggu di tempat semacam terminal, menunggu kendaraan Fort Siloso Tour yang akan mengantar kita masuk lebih ke dalam. Ada tour guide yang menceritakan kisah seputar sejarah perang di sana. Kita diturunkan di salah satu bangunan dan kita berpencar melihat2 aneka sisa peninggalan perang. Terakhir kita ke toko suvenir yang juga merupakan tempat kendaraan menjemput kita kembali ke terminal tadi.

Kolam dengan kura2 raksasa

Terminal Fort Siloso

Kendaraan yang akan mengantar kita masuk dan juga mengantar kita pulang

Meriam2

Ada orang2an di dalam bangunan bawah tanah

Orang2an sedang meeting

Di terminal Fort Siloso inilah kita berpisah dengan pasangan Malaysia, teman baru kami. Mereka masih mau melanjutkan perjalanan sedangkan kami mau pulang. Hari udah sore dan jam menunjukkan pukul 7 kurang. Kami sudah lapar dan haus, dan kami memutuskan makan malam di Vivo City. Maka kita naik bis khusus Siloso langsung ke stastium sky train yang kemudian mengantar kita langsung ke Vivo City. Kita langsung mencari makan malam dan pilihan kita jatuh ke restoran Jepang, Bachmann Japanese Restaurant. Kita memesan menu set. Sayang sekali karena kamera udah low jadi ngga bisa memotret suasana restorannya maupun makanannya. Aku hanya memotret suasana laut yang jadi teman makan kami karena kami memlih duduk di ruang terbuka. Menu pesananku datang lebih cepat sedangkan menu pesanan Benny lama sekali benar sampe harus menanyakan kepada pelayannya 2x. Saat sedang menyantap makan malam, Benny ditelpon Richard yang mengabari bahwa mau menyusul kita ke Vivo City setelah toko tutup. Baiknya mereka, Benny bilang bahwa kita memang mau mengunjungi mereka ke Bedok sekalian mau ke IKEA di Tampines karena besok kita sudah balik ke Jakarta.

Pemandangan laut ke arah Sentosa Island
dari tempat makan kami


Setelah jalan2 sejam di Vivo City dan membeli beberapa barang di Watson sementara Benny ke toko buku Page One, kami naik MRT ke Bedok. Di stasitun MRT Bedok, Richard dan Joann sudah menanti kami kemudian kami bersama2 menuju ke mobil mereka diparkir. Mereka mau mengantar kami ke IKEA di Tampines. Sungguh mereka baik sekali dan kami sangat bersyukur memiliki teman baik seperti mereka walau kami dari negara yang berbeda. Perjalanan dari Bedok ke Tampines ternyata jauh juga. Saat tiba di sana, sudah jam 10 malam berarti tinggal sejam lagi kita melihat2 di dalam. Kita mulai dari bagian perabot, mirip di Index... barang2nya bagus2 dan bergaya minimalis. Aku mendapat beberapa barang dari sana dengan harga murah yaitu 2 kotak plastik, 2 buah tempat meletakkan sendok untuk di laci, mangkok plastik warna warni, penjepit kantong makanan warna warni. Kita baru menjelajahi separuh saja, tempatnya udah keburu tutup. Sayang sekali padahal bisa kulihat masih banyak barang yang bagus di sana menantiku untuk membelinya hehe. Dengan sisa batere kamera terakhir, kupotret suasana gudang perabot IKEA yang luas dan tinggi.

Suasana gudang di IKEA, semuanya bisa diambil dan dibeli

Keluar dari IKEA, aku dan Benny ingin mentraktir Richard dan Joann minum sambil ngobrol untuk terakhir kali sebelum kami balik ke Jakarta besok. Setelah berputar2 sejenak, akhirnya Richard dan Joann mengajak ke daerah Pasir Ris yang ada kafe buka sampe larut malam di tepi pantai. Ada 3 buah kafe yang masih buka di sana. Kita memilih duduk di ruang terbuka di atas panggung yang didirikan di atas pasir dan kita bisa melihat laut yang sudah gelap gulita. Lagi2 sayang sekali kameraku udah tewas jadi ngga bisa memotret apa2 acara malam itu. Kita memesan spaghetti, ayam dan minuman hangat. Hidangannya datang dengan cepat, pelayanannya memuaskan dan masakannya lezat sekali. Setelah puas makan dan ngobrol, ketika jam sudah menunjukkan pukul 1 lewat tengah malam yang berarti saatnya kami pulang. Saat kami mau didrop di apartemen, kami mengucapkan salam perpisahan dan saling berjanji akan bertemu lagi.

Bersambung ke Liburan Natal di Singapore (Part 4)
Day 5: Last Day at Singapore

Saturday, January 2, 2010

Liburan Natal di Singapore (Part 3)

Day 3: Singapore Botanic Gardens

Pagi yang cerah, kami dijemput Richard dan Joann di belakang apartemen. Kami langsung meluncur ke tempat wisata kami berikutnya yaitu Singapore Botanic Gardens. Kami akan sarapan bersama di sana. Sekitar jam 10.15, kami sudah tiba di sana. Kami langsung disambut pohon natal sederhana yg terbuat dari rangkaian tanaman dan dihiasi lampu, sangat sederhana. Kemudian kulihat banyak wisatawan memakai baju olah raga, dan banyak juga yang membawa anjingnya untuk jalan2 di sana. Aneka macam anjing lucu2 mulai dati kecil seperti anjing pudel sampe besar seperti anjing herder. Senang sekali melihat keakuran antara anjing dengan majikannya dan anjing disayang majikannya.

Pohon Natal sederhana

Tiga anjing dan majikannya baru habis olah raga

Sebelum memulai perjalanan menjelajahi Singapore Botanic Garden, kami mau sarapan dulu jadi kita mencari tempat duduk yang sudah penuh di sana. Setelah mendapat meja kosong, aku duduk menjaga meja sementara Benny, Richard dan Joann pergi memesan makanan. Ternyata menunya masakan barat. Hidangan pembuka berupa roti tawar, croissant, mentega dan selai. Kemudian makanan utama, sosis, telur, kentang, ham dan sayuran. Aku sangat menikmati sarapannya apalagi suasananya terbuka dengan banyak pohon2. Sementara sarapan, kulihat ada banyak burung2 hinggap di pohon2. Kalo ada piring2 bekas diletakkan di lemari untuk ditaruh di belakang, langsung burung2nya terbang mengerumuni piring2 bekas tsb. Di meja lain ada banyak majikan makan ditemani anjing2nya yang jinak. Di sana disediakan piring dan kran air minum untuk anjing2.

Suasana tempat makan, bentuk memanjang

Burung2 mengerumini piring2 sisa

Hidangan pembuka, aneka roti

Menu utama, omelet, kentang, sosis, ham dan sayuran

Menu utama, telur setengah matang, kentang, sosis, ham dan sayuran

Setelah mengisi perut, kita siap berjalan2. Jam sudah menunjukkan pukul 11.45. Di awal perjalanan, kita disambut deretan pohon natal dari berbagai negara, perbagai perusahaan di Singapore. Jumlahnya sangat banyak dan ngga sempat kuhitung, dekorasinya unik2 dan berbeda satu sama lain. Setelah beberapa menit berjalan kita sampai ke Sympony Lake, danau dengan panggung di tengah danau. Lebih jauh lagi berjalan, banyak pemandangan bagus dan indah di sana. Semuanya begitu bersih dan dirawat baik. Ada ikan dan kura2 di dalam danau, dan kita diijinkan memberi makanan berupa roti tawar. Ternyata Richard dan Joann sudah menyiapkan sekantung roti tawar untuk dibagi2. Tiap kali melihat ada ikan atau kura2, kita berhenti untuk memberi makan.

Papan petunjuk arah

Deretan pohon natal

Symphony Lake dengan bangunan Shaw Foundation Symhony Stage di tengah2 danau

Cuaca saat itu ngga terlalu panas jadi perjalanannya menyenangkan. Di semua arah pemandangannya indah dan hijau. Ngga ada sampah sedikitpun, cuma ada daun2 atau buah gugur di sekitar pohon2. Sampai ke kolam yang agak terpencil dengan jembatan, kami lihat ada yg bergerak di kolam jadi berhenti untuk memberi makan. Ternyata itu bukan ikan biasa tapi ikan lele yang semakin lama semakin banyak yang berdatangan dan rebutan roti yang kita bagikan. Richard dan Joann melempar sehelai roti utuh langsung banyak mulut ikan lelenya muncul ke permukaan air berebutan makan rotinya. Kemudian kita berjalan lagi sampai ke Swan Lake di mana ada 2 pasang angsa putih berenang dengan anggun.
Danau yang bersih dan asri

Ikan lele berebutan roti

Swan Lake

Setelah melewati danau2, kita melewati taman2 yang ditata dengan cantik. Ada jam matahari di tengah taman bergaya Inggris. Ada juga taman khusus tamanan bonsai, ada juga area untuk tamanan kaktus. Di perjalanan kulihat di tengah taman ada pemotretan pengantin di sekitar gazebo yang cantik. Mereka pasti akan mendapat foto yang indah soalnya ngga ada yang ngga indah dari taman ini. Di bagian akir perjalanan, kulihat di beberapa taman ada patung2 gadis yang ditempa dari besi perunggu dengan indah dan dibuat menyatu dengan tamannya. Ada patng gadis bersepeda, patung gadis main ayunan dll.

Taman bergaya Inggris

Taman dengan jalan beraspal yang bersih

Akhirnya perjalanan di Singapore Botanic Garden selesai dan kita kembali ke titik semula tempat kita datang tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 2.15 siang. Kita belum makan siang, maka kita pun keluar meninggalkan Botanic Gardens. Kita sempat bingung mau makan di mana, kemudian akhirnya kita makan di Din Tai Fung di Paragon. Di Jakarta ada restoran Din Tai Fung dan pernah kureview di sini. Ngga hanya di sini, ternyata di sana juga tulisan bahwa Din Tai Fung merupakan "Top 10 Restaurants in the World. Voted by The New York Times". Restorannya sangat luas dengan dapur di tengah2, sekitar 4x lipat dari Din Tai Fung di Plaza Senayan Jakarta. Saat di Jakarta, aku belum pernah mencicipi dumplingnya yang terkenal jadi kali ini kita memesan dumpling 2 porsi, ditambah sayuran, ayam dan nasi goreng.

Restoran Din Tai Fung Paragon

Tampak dalam Din Tai Fung

Dumpling menu andalan dari Din Tai Fung

Hidangan agak lama baru datang. Ini pertama kalinya aku makan dumpling dari Din Tai Fung, ternyata memang enak sekali. Bagian dalamnya ada kuah jadi kulitnya harus digigit sedikit saja lalu minum kuahnya baru dimakan isinya dengan kulitnya. Sedaaap! Apalagi kalo dicampur dengan irisan jahe dengan soya! Kita menikmati sekali makan siang ini sambil ngobrol, dan kali ini gantian kami yang mentraktir. Setelah makan, kita jalan2 di dalam Paragon dan melihat ada sale di Marks & Spencer. Joann membeli beberapa kotak coklat dan Benny juga beli sekotak coklat Belgia kesukaannya. Kemudian Richard ingin menunjukkan foto2 di laptopnya maka kita mencari tempat duduk, kita ke Killiney di Lucky Plaza bagian bawah. Kita memesan minuman masing2 dan Benny membuka coklat Belgia yang baru dibeli tadi untuk di makan bersama sambil lihat foto2 di dalam laptop yang dibawa Richard.

Coklat Belgia dari Marks & Spencer

Coklat belgia dari Marks & Spencer setelah dibuka

Saat di Killiney melihat2 foto dari laptop Richard, Joann ditelpon teman2nya yang mengajak nonton Sherlock Holmes. Dan Joann mengajak kita ikut nonton bareng dan mau memperkenalkan kita kepada teman2nya. Jadi kita pun dipesankan tiket oleh teman Joann untuk film Sherlock Holmes jam 9.30 malam di Plaza Singapura. Masih ada sisa waktu 3 jam sebelum film dimulai. Mumpung kita lagi di Lucky Plaza jadi kita kembali ke apartemen yang terletak di lantai atas untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah segar habis mandi dan berganti pakaian, kita menemui Richard dan Joann di Paragon kemudian bersama2 kita ke tempat mobil diparkir. Kita langsung menuju Plaza Singapore.

Interior di Plaza Singapura

Nonton di Plaza Singapore katanya termasuk murah, harga tiketnya SGD 12 per orang. Tapi aku ngga tahu berapa harga tiket di tempat lain. Ini pertama kalinya bagiku nonton di Singapore. Tiba Di Plaza Singapore, kita menemui teman2 Joann dulu. Kita saling berkenalan dulu dan kita bersama2 masuk ke bioskop. Aku ngga sempat memperhatikan sekeliling bioskopnya bagaimana apalagi memotretnya. Yang kuingat, dari serambi yang ada deretan toko2 kita naik tangga lalu udah masuk ke dalam ruangan bioskopnya. Ngga kulihat ada ruangan luas spt di Jakarta, yang ada tempat penjualan tiket, penjualan makanan minuman, tempat duduk sampe permainan games. Mungkin saja ada di ruangan lain dan ngga sempat kulihat. Kita dapat tempat duduk di barisan nomer 2 dari depan samping. Ruangan bioskopnya ngga beda jauh dengan di Jakarta, kursinya juga warna merah. Cuma filmnya ada teks mandarin. Filmnya selesai sekitar jam 11 malam. Plazanya udah sepi dan gelap jadi kita langsung pulang diantar Richard dan Joann. Karena kita udah mandi sore jadi kita hanya cuci muka, tangan dan kaki lalu bisa langsung tidur. Besok kita mau ke Sentosa Island!

Bersambung ke Liburan Natal di Singapore (Part 4)
Day 4 : Sentosa Island

Related Posts with Thumbnails
 
BEAUTY